Review Film Pangku : Perempuan Sebagai Pejuang

*klik here/backsound*

Menikmati tayangan film Pangku dengan latar realitas kehidupan di pesisir pantai sedikit banyak membuka mataku terhadap kehidupan yang dijalani orang lain diluar sana. Memang, dengan dunia yang begitu luas, kadang pengetahuan yang kita miliki justru terbatas. Seringkali apa yang kita ketahui hanya berputar pada lingkungan sekitar kita, padahal banyak hal-hal lain yang sungguh jauh dari kehidupan yang sedang kita jalani. Tidak semuanya menyedihkan memang, namun seringkali merupakan hal yang jauh dari bayangan.

Sungguh amat biasa saja, yang dijual hanya kopi dan ketengan rokok. Namun para wanita Pantura menyajikannya dengan cara yang tidak biasa. Jauh dari bisingnya kota besar, tidak ada gemerlap lampu diskotek, atau alkohol premium seperti whisky/vodka/tequila serta musik yang dimainkan DJ dengan jam terbang yang tinggi. Hiburan masyarakat marginal tidak sehingar bingar yang selama ini distigmakan oleh orang-orang kota. Disudut pengap, dengan modal mepet, kopi dan rokok disulap jadi hiburan yang cukup memuaskan. 

Kopi Pangku namanya. Secangkir kopi disajikan seperti biasa, yang tidak biasa adalah kehadiran wanita yang duduk dipangkuan pembelinya. Melalui film yang mengusung gaya sinematik klasik, dengan visual yang kuat dan narasi yang lambat, Reza Rahadian sukses membawakan setiap cerita tergambarkan dengan sangat baik. Satu adegan sederhana ketika Sartika melihat beras yang tinggal sedikit, dan Ia menghela napas, sungguh tidak sesederhana itu maknanya. Ia berhasil mengantarkan emosinya kepada penonton. Marah, sedih, kesal, terangkum dalam helaan napasnya yang mampu mengguncang perut dan memberikan rasa tidak nyaman bagi siapapun yang menontonnya.

Reza Rahadian tidak hanya aktor yang mumpuni, namun melalui film ini Ia sekali lagi membuktikan bahwa Ia juga memiliki value dalam dunia perfilman sebagai seorang sutradara. Tidak tanggung-tanggung, 4 penghargaan FFI sekaligus bisa dibawa pulang olehnya melalui Pangku. Film ini dibawakan dengan adegan yang minim dialog, namun setiap gerakan menggambarkan berbagai emosi yang tergambar begitu lantang. Tak ada kalimat panjang yang bersajak-sajak, atau ocehan khas ibu-ibu pada umumnya. Pangku tidak menjual banyak drama, Ia hanya menunjukan kehidupan apa adanya, dengan ritme yang lambat dan penuh napas.

Setiap adegan sirat akan makna. Saat Sartika sedang dipangku Si Penikmat Kopi dan anaknya terbangun serta memanggil "Ibu...", aku yakin semua penonton serasa ditinju. Adegan itu benar-benar mengoyak hati, mengeluarkan berbagai simpati dan empati. 

Bayu, anak kecil yang sejak lahir tumbuh hanya dengan ibunya tanpa tahu siapa sosok ayahnya, harus menerima ketidak adilan hidupnya berkali-kali. Ia begitu excited untuk sekolah, mengenakan seragam yang dijahit dibeberapa bagian oleh Sartika dengan antusias, namun pada akhirnya impian dan rasa excited itu harus Ia lebur pelan-pelan karena sekolah menolaknya hanya karena Ia tidak tahu siapa nama bapaknya yang harus dicantumkan dalam ijazah. Sesulit itukah pendidikan bagi mereka yang bahkan tidak bersalah dan tidak minta untuk dilahirkan? Sepedih itukah mereka harus menjalani kenyataan dan menggapai impian?

Pada akhirnya, meski kebahagiaan pelan-pelan menghampiri, Sartika harus menerima kenyataan pahit dihidupnya, lagi. Ia menikahi pria yang salah, meski setidaknya melalui pernikahan itu Bayu akhirnya mampu bersekolah. Barangkali banyak yang kecewa karena akhir film ini dibuat seakan menggantung, namun bukankah realitas kehidupan memang seperti itu? Tidak ada yang tau bagaimana akhir dari sebuah cerita, kecuali aktor dalam cerita itu meninggal dunia. 

Karakter dalam film Pangku hadir sebagai sebuah kisah pembelajaran tanpa perlu menasihati. Sehari demi sehari, Sartika terus berjalan. Sebilah demi sebilah, Gilang terus membuat layangan. Semalam demi semalam bu Maya terus membuka warungnya. Sartika terjatuh berkali-kali, dan berkali-kali pula ia menata dirinya untuk melanjutkan kehidupan. 

Pangku adalah sebuah film buatan pria, tentang kehidupan wanita. Serapi itu Reza menggambarkan setiap karakter yang Ia hadirkan. Segalanya dikemas dengan baik tanpa ada yang terlupakan. Dari film Pangku kita belajar bahwa perempuan selalu punya banyak cara untuk bertahan meski hidup tidak memberi banyak pilihan. Film ini menggambarkan dengan jelas realitas sosial dan emosional yang dihadapi perempuan dalam situasi yang sulit, mulai dari tekanan ekonomi, stigma masyarakat, hingga perjuangan membesarkan anak seorang diri. 

Sartika harus tahu, bahwa diluar sana banyak sosok Ibu lain yang juga berjuang untuk anaknya. Para Ibu pejuang diluar sana-pun harus tahu, bahwa disini ada Sartika yang juga berjuang untuk anaknya. 

Akhir kata : Hidup begitu keras, dan semuanya adalah pejuang. Namun sekeras-kerasnya hidupku, aku tidak ingin anakku menjalani hidup yang lebih keras dari aku. Jadi ibu berat, jadi ayah juga berat. Namun kami jadi keduanya.


Trailer Film PANGKU

Komentar

Postingan Populer